Arsip Kategori: Peninggalan Prasejarah di Indonesia

Zaman Besi

Zaman Besi

Pada zaman ini manusia telah menggunakan peralatan yang terbuat dari besi dengan tujuan menghasilkan alat yang jauh lebih kuat dan bisa digunakan berulang kali. Tentu saja untuk menghasilkan alat ini diperlukan teknologi yang baru, disertai kemampuan untuk menbuat alat-alat dari besi. Berikut beberapa peninggalan dari zaman besi.

1. Mata Panah

Mata Panah Besi
Mata Panah Besi

Merupakan salah satu alat berburu dibuat pada zaman tersebut. Perkembangan mata panah pun memang terjadi seiring dengan budaya mengikutinya. Awalnya, mata panah dibuat dengan meruncingkan kayu menggunakan tulang. Batu kemudian pada zaman di mana besi telah bisa diolah buat dijadikan peralatan serta senjata , maka dibuat pula mata panah tersebut. Tentu saja hasilnya akan lebih baik dan awet jika dibanding dengan bahan standar sebelumnya.

2. Mata Pisau

Mata Pisau Besi
Mata Pisau Besi

Merupakan alat bernilai hemat tinggi. Mata pisau ini bisa digunakan sebagai pertahanan diri dari binatang buas . Berarti pisau ini juga memiliki kegunaan sebagai alat buat melindungi diri atau senjata yang berguna untuk melindungi dari binatang buas dan pada waktu itu masih banyak ditemui. Selain digunakan sebagai alat buat melindungi diri, mata pisau juga dijadikan sebagai alat buat mengumpulkan makanan.

3. Mata Sabit

Mata Sabit Besi
Mata Sabit Besi

Besi juga dapat dibuat sebagai mata sabit. Mata sabit ditemukan pada zaman besi diduga digunakan sebagai menyabit tumbuhan. Kegunaannya hampir sama dengan mata pisau. Alat ini hanya sedikit besar dibanding dengan mata pisau. Sampai saat ini, sabit masih digunakan sebagai alat pertanian.

4. Mata Pedang

Mata Pedang Besi
Mata Pedang Besi

Pedang pertama kali diperkirakan dipakai oleh bangsa Hittie, Myceania, Yunani, dan Proto-Celtit Halstatt. Besi pada waktu itu memang tersedia dalam jumlah yang banyak. Tidak heran jika kemudian manusia mulai berkembang akal pikirannya mengubah biji besi menjadi peralatan perang dari besi. Pembuatan pedang awalnya memiliki kualitas yang sangat buruk. Bahkan, hasil dari besi terbaik membuat sebuah pedang yang lebih buruk dari perunggu. Setelah melakukan beberapa penelitian, maka ditemukanlah campuran pembuatan pedang besi agar tak mudah ringkih dan lunak. Karbon merupakan bahan tambahan dan dipercaya akan membuat besi menghasilkan pedang dengan kualitas bagus. Saat ini, besi campuran karbon tersebut dikenal dengan besi baja. Pada zaman ini pula, ditemukan bagaimana pola membuat pedang .

Zaman Perunggu

Zaman Perunggu

Zaman dimana manusia banyak menggunakan peralatan yang terbuat dari perunggu. Perunggu merupakan hasil campuran antara timah putih dan tembaga. Berikut contoh-contoh peninggalan zaman perunggu di Indonesia

1. Nekara dan Moko

Nekara
Nekara

Merupakan hasil budaya yang biasa digunakan sebagai alat upacara, bentuknya menyerupai genderang dengan penyempitan dibagian pinggangnya. Pada umumnya nekara berbentuk besar dan moko yang berbentuk mirip nekara memiliki ukuran yang lebih kecil. Nekara memiliki bentuk yang bermacam-macam, ada yang polos tetapi ada juga yang memiliki banyak hiasan. Di indonesia ditemukan sejenis nekara berukuran besar, yaitu di Panjeng, sebuah desa di Gianyar, Bali. Nekara Penjeng ini di perkirakan merupakan nekara asli buatan indonesia.

2. Bejana Perunggu

Bejana Perunggu
Bejana Perunggu

Bejana perunggu di Indonesia ditemukan di tepi Danau Kerinci (Sumatera) dan Madura, bentuknya seperti periuk tetapi langsing dan gepeng. Kedua bejana yang ditemukan mempunyai hiasan yang serupa dan sangat indah berupa gambar-gambar geometri dan pilin-pilin yang mirip huruf J.

3. Kapak Corong

Kapak Corong
Kapak Corong

Karena mirip sepatu, kapak corong juga di sebut kapak sepatu. Hasil budaya logam dari jenis ini biasanya digunakan sebagai alat upacara atau tanda kebesaran dari kepala suku dan para pemimpin masyarakat pada masa itu. Kapak corong banyak ditemukan di Sulawesi Selatan (pulau Selayar), Sulawesi Tengah, Sumatra Selatan, Jawa, dan Papua (Danau Sentani).

4. Candrasa

Candrasa
Candrasa

Seperti halnya kapak corong, hasil budaya zaman logam yang disebut candrasa ini juga digunakan sebagai alat upacara. Sejenis kapak dengan ragam rias yang sangat halus buatannya ini menunjukan tingginya kemampuan membuat benda-benda dengan bahan dasar perunggu dengan detail yang lebih halus.

5. Arca Perunggu

Arca Perunggu
Arca Perunggu

Arca perunggu/patung yang berkembang pada zaman logam memiliki bentuk beranekaragam, ada yang berbentuk manusia, ada juga yang berbentuk binatang. Pada umumnya arca perunggu bentuknya kecil-kecil dan dilengkapi cincin pada bagian atasnya. Adapun fungsi dari cincin tersebut sebagai alat untuk menggantungkan arca itu sehingga tidak mustahil arca perunggu yang kecil dipergunakan sebagai liontin/bandul kalung. Daerah penemuan arca perunggu di Indonesia adalah Bangkinang (Riau), Palembang (Sumsel) dan Limbangan (Bogor).

6. Perhiasan perunggu

Perhiasan Perunggu
Perhiasan Perunggu

Arca perunggu/patung yang berkembang pada zaman logam memiliki bentuk beranekaragam, ada yang berbentuk manusia, ada juga yang berbentuk binatang. Pada umumnya arca perunggu bentuknya kecil-kecil dan dilengkapi cincin pada bagian atasnya. Adapun fungsi dari cincin tersebut sebagai alat untuk menggantungkan arca itu sehingga tidak mustahil arca perunggu yang kecil dipergunakan sebagai liontin/bandul kalung. Daerah penemuan arca perunggu di Indonesia adalah Bangkinang (Riau), Palembang (Sumsel) dan Limbangan (Bogor).

Zaman Batu Besar (Megalithikum)

Peninggalan-peninggalan prasejarah pada zaman ini, berupa :

  1. Dolmen
    Dolmen

    Dolmen, yaitu bangunan seperti meja dari batu berkaki yang digunakan untuk pelinggih roh atau tempat sesajian.

  2. Menhir
    Menhir

    Menhir, yaitu sebuah tugu batu yang diletakkan dengan sengaja di suatu tempat untuk memperingati orang mati.

  3. Sarkofagus
    Sarkofagus

    Sarkofagus, adalah bangunan peti mati yang bentuknya seperti lesung.

  4. Peti Kiubur Batu
    Peti Kiubur Batu

    Peti kubur batu, yaitu peti mayat yang dibentuk dari enam papan batu, terdiri dari dua sisi panjang, dua sisi lebar, sebuah lantai, dan sebuah penutup besi.

  5. Punden Berundak-undak
    Punden Berundak-undak

    punden berundak-undak, yaitu bangunan berupa batu yang berundak-undak, yang biasanya terdiri dari tujuh dataran (undak), digunakan untuk kegiatan pemujaan terhadap arwah nenek moyang.

  6. Waruga
    Waruga

    Waruga, yaitu kubur batu yang berbentuk kubus atau bulat.

  7. Arca Megalithik
    Arca Megalithik

    Arca-arca megalitik, berupa arca-arca yang menggambarkan manusia atau binatang, seperti gajah, harimau, kerbau, monyet dalam ukuran yang besar.

Zaman Batu Baru (Neolithikum)

Peninggalan pada zaman ini, berupa :

1. Kapak Persegi

Kapak Persegi
Kapak Persegi

banyak di temukan di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Nusa Tenggara. Bahan dasar adalah batu api (chalcedon) dengan buatan yang sangat halus karena diasah. Kebudayaan kapak persegi diperkirakan masuk  ke indonesia melalui jalan barat, yaitu dari Yunan ke Semenanjung Malaka, lalu masuk ke Jawa melalui Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku. Para arkeolog memperkirakan  bahwa benda tersebut di buat sebagai lambang kebesaran, jimat, alat upacara, atau alat tukar. Misalnya : Beliung, Pacul dan Torah untuk mengerjakan kayu. Ditemukan di Sumatera, Jawa, bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan.

2. Kapak Bahu

Kapak Bahu
Kapak Bahu

Kapak Bahu, sama seperti kapak persegi, hanya di bagian yang diikatkan pada tangkainya diberi leher. Hanya di temukan di Minahasa.

3. Kapak Lonjong

Kapak Lonjong
Kapak Lonjong

adalah kapak yang penampangnya berbentuk lonjong, ujungnya agak lancip sehingga dapat dipasangi tangkai. Kapak lonjong mempunyai dua ukuran, yaitu ukuran kecil (kleinbeil) dan ukuran besar (walzenbeil). Sebagian besar wilayah temuan kapak lonjong terdapat di Papua, karenanya kebudayaan kapak lonjong sering juga di sebut dengan Neolithikum Papua. Di daerah lain di indonesia kapak lonjong juga di temukan di Sulawesi, Sangihe Talaud, Flores, Maluku, dan Kepulauan Tanimbar.

Zaman Batu Pertengahan / Madya (Mesolithikum)

Zaman batu madya ditandai oleh adanya usaha untuk lebih menghaluskan perkakas yang dibuat. Dari penelitian arkeologis kebudayaan batu madya di Indonesia memiliki persamaan kebudayaan dengan yang ada di daerah Tonkin, Indochina (Vietnam).

Diperkirakan bahwa kebudayaan batu madya di Indonesia berasal dari kebudayaan di dua daerah yaitu Bascon dan Hoabind. Oleh karena itu pula kebudayaan ini dinamakan Kebudayaan Bascon Hoabind. Hasil-hasil kebudayaan Bascon Hoabind, antara lain berikut ini.

  1. Kapak Sumatra (Pebble)
Kapak Sumatra
Kapak Sumatra

Bentuk kapak ini bulat, terbuat dari batu kali yang dibelah dua. Kapak genggam jenis ini banyak ditemukan di Sepanjang Pantai Timur Pulau Sumatera, antara Langsa (Aceh) dan Medan.

2. Kapak Pendek

Kapak Pendek
Kapak Pendek

Kapak Pendek sejenis kapak genggam bentuknya setengah lingkaran. Kapak ini ditemukan di sepanjang Pantai Timur Pulau Sumatera.

3. Kjokkenmoddinger

Kjokkenmoddinger
Kjokkenmoddinger

Kjokkenmoddinger berasal dari bahasa Denmark, Kjokken berarti dapur dan modding artinya sampah. Jadi, kjokkenmoddinger adalah sampah dapur berupa kulit-kulit siput dan kerang yang telah bertumpuk selama beribu-ribu tahun sehingga membentuk sebuah bukit kecil yang beberapa meter tingginya. Fosil dapur sampah ini banyak ditemukan di sepanjang Pantai Timur Pulau Sumatera.

Zaman Batu Tua (Paleolithikum)

kapak perimbas

1. Kapak Perimbas

Kapak ini terbuat dari batu, tidak memiliki tangkai, digunakan dengan cara menggengam. Dipakai untuk menguliti binatang, memotong kayu, dan memecahkan tulang binatang buruan. Kapak perimbas banyak ditemukan di daerah-daerah di Indonesia, termasuk dalam Kebudayaan Pacitan. Kapak perimbas dan kapak genggam dibuat dan digunakan oleh jenis manusia purba Pithecantropus.

2. Kapak genggam

Kapak Genggam
Kapak Genggam

memiliki bentuk hampir sama dengan jenis kapak penetak dan perimbas, namun bentuknya jauh lebih kecil. Fungsinya untuk membelah kayu, menggali umbi-umbian, memotong daging hewan buruan, dan keperluan lainnya. Pada tahun 1935, peneliti Ralph von Koenigswald berhasil menemukan sejumlah kapak genggam di Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Karena ditemukan di Pacitan maka disebut Kebudayaan Pacitan.

3. Alat alat serpih

Flakes
Flakes

Alat-alat serpih terbuat dari pecahan-pecahan batu kecil, digunakan sebagai alat penusuk, pemotong daging, dan pisau. Alat-alat serpih banyak ditemukan di daerah Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, masih termasuk Kebudayaan Ngandong.

4. Perkakas dari Tulang dan Tanduk

Perkakas tulang dan tanduk hewan banyak ditemukan di daerah Ngandong, dekat Ngawi, Jawa Timur. Alat-alat itu berfungsi sebagai alat penusuk, pengorek, dan mata tombak. Oleh peneliti arkeologis perkakas dari tulang disebut sebagai Kebudayaan Ngandong. Alat-alat serpih dan alat-alat dari tulang dan tanduk ini dibuat dan digunakan oleh jenis manusia purba Homo Soloensis dan Homo Wajakensis.

Perkakas dari Tulang dan Tanduk
Perkakas dari Tulang dan Tanduk